Penyisipan bibit adalah proses penanaman kembali bibit kelapa sawit di titik-titik tanaman yang gagal tumbuh atau tidak berkembang dengan baik dalam blok tanam yang telah ada. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada masa awal pertumbuhan, yaitu 6 bulan hingga maksimal 2 tahun setelah tanam awal. Setelah periode ini, penyisipan sudah tidak dianjurkan karena akan menimbulkan persaingan tumbuh antara tanaman muda dan tanaman yang lebih tua.
Tujuan Penyisipan Bibit
- Menjaga Kepadatan Ideal Tanaman
Kepadatan ideal tanaman kelapa sawit berkisar antara 136-143 pohon per hektare. Kepadatan yang tidak sesuai dapat mengakibatkan penurunan hasil produksi per hektare. - Meningkatkan Efisiensi Produksi
Tanaman yang sehat dan seragam memudahkan pemeliharaan, pemupukan, serta panen, sehingga efisiensi kerja lebih tinggi. - Meningkatkan Produktivitas
Penyisipan membantu memaksimalkan potensi hasil panen dengan mengurangi jumlah tanaman tidak produktif.
Teknik Penyisipan
- Identifikasi Titik Tanam yang Gagal
Lakukan pencatatan tanaman yang tidak tumbuh atau tumbuh tidak normal selama 3–6 bulan pertama setelah tanam. - Penggantian Tanaman
Tanaman yang layu, kerdil, atau terkena penyakit harus dicabut dan diganti dengan bibit baru. - Penanaman Bibit
Lakukan penanaman seperti prosedur tanam awal: gali lubang tanam, aplikasikan pupuk dasar, dan tanam bibit dengan posisi tegak dan tanah yang cukup padat. - Perawatan Intensif
Bibit hasil penyisipan membutuhkan perlakuan khusus seperti penyiraman, pemupukan rutin, dan perlindungan dari gulma dan hama agar bisa mengejar pertumbuhan tanaman lainnya.
Umur 0 – 4 tahun, setiap tanaman abnormal perlu dibongkar dan dapat disisip. Bibit yang digunakan untuk penyisipan sebaiknya menggunakan bibit yang seumur dengan tanaman di sekitarnya. Waktu penyisipan dilaksanakan pada awal musim hujan sampai dengan awal musim kering.
Penyisipan bibit di perkebunan kelapa sawit merupakan langkah penting dalam memastikan kelangsungan dan optimalisasi hasil produksi. Dengan manajemen penyisipan yang tepat dan penggunaan bibit berkualitas, produktivitas lahan dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan. Oleh karena itu, penyisipan perlu menjadi bagian dari strategi pengelolaan perkebunan sawit yang berkelanjutan dan berbasis pada praktik agronomi terbaik.





