Apogonia, Kumbang Pemakan Daun Kelapa Sawit

Mengenal Kumbang Pemakan Daun Kelapa Sawit

Apogonia atau kumbang malam adalah serangga yang banyak menyerang tanaman sawit muda. Kumbang ini menyerang pada saat sore hingga malam hari.

Ciri-Ciri Apogonia

Kumbang Apogonia sp memiliki panjang sekitar 10 mm dengan warna bervariasi, umumnya cokelat, hitam, atau belang hitam mengkilat. Larva Apogonia sp berwarna putih, mirip dengan larva oryctes, dan berukuran sekitar 15 mm.

Siklus Hidup

Siklus hidup kumbang pemakan daun terdiri dari empat fase: telur, larva, pupa, dan dewasa.

Satu kumbang betina dapat bertelur 40-60 butir. Telur berbentuk oval dan terkubur beberapa sentimeter di bawah permukaan tanah. Setelah 7-10 hari, telur akan menetas dan menjadi larva.

Larva mulai tumbuh dan menyerang akar dan tanaman selama 72 hari, selanjutnya larva akan membentuk pupa dan masuk lebih dalam ke dalam tanah selama 12-16 hari.

Gejala dan Dampak Serangan Apogonia Terhadap Tanaman Sawit

Serangan kumbang ini biasanya terjadi pada tanaman kelapa sawit muda (TBM atau Tanaman Belum Menghasilkan), terutama pada fase awal pertumbuhan.

Kumbang Apagonia aktif menyerang daun Kelapa Sawit di malam hari. Apagonia memakan daun muda mulai dari bagian pinggir daun sehingga menyebabkan kerusakan daun berupa lubang-lubang tak beraturan.

Pada siang hari Kumbang Apagonia  tidak aktif dan berada di kedalaman antara 1 hingga 2 cm di bawah permukaan tanah. Di areal pembibitan Kumbang ini kadang terlihat di bawah polybag bibit.

Beberapa dampak utama dari serangan apogonia:

  1. Penurunan laju fotosintesis akibat rusaknya permukaan daun.
  2. Pertumbuhan tanaman terganggu
  3. Potensi kerusakan jangka panjang, terutama jika serangan terjadi berulang dan tidak terkendali.

Pengendalian dan Pencegahan

Pencegahan serangan hama kumbang dapat dilakukan dengan pengamatan rutin dan pemantauan populasi hama secara dini, sehingga serangan dapat terdeteksi lebih awal dan pengendalian dapat dilakukan dengan lebih efektif.

Pengendalian hama Apogonia, dapat dilakukan dengan beberapa metode, antara lain:

Metode Kimia

Pengendalian dengan metode kimia dilakukan dengan penyemprotan insektisida kontak atau sistemik dengan bahan aktif Sipermetrin 250 EC dengan konsentrasi sebesar 2 ml per liter air. Kegiatan penyemprotan dilakukan pada malam hari antara pukul 19.00 hingga 22.00 

Untuk jenis serangan sedang penyemprotan dapat dilakukan seminggu sekali, sedangkan jika serangan lebih serius dapat dilakukan penyemprotan seminggu 2 kali.

Penyemprotan kimia harus dilakukan secara hati-hati karena adanya potensi timbulnya resistensi pada hama dan dampak pencemaran lingkungan. Selain itu juga berpotensi berkurangnya musuh alami Apagonia karena ikut mati akibat tindakan penyemprotan.

Metode Mekanis

Pengendalian dengan metode mekanis dilakukan dengan penggunaan perangkap lampu atau light trap.

Light trap dibuat dari beberapa alat dan bahan:

  • Lampu LED.
  • Insektisida berbahan aktif Lamda Sihalotrin.
  • Ember sebagai tempat larutan lamda sihalotrin
  • Tiang penahan dan pelindung lampu LED.

Larutan insektisida dibuat dengan komposisi 2ml Lamda Sihalotrin per 1 liter air. Lakukan pengamatan jumlah Apogonia yang terperangkap di ember untuk melihat efektifitas penggunaan light trap.

Metode Biologis

Metode biologis untuk penanganan Kumbang Apagonia dilakukan dengan menggunakan pengendali hayati yang merupakan musuh alaminya. Predator yang merupakan musuh alami Kumbang Malam antara lain:

  • Lalat Tachinid.
  • Kutu Pembunuh dan Kutu Bau Predator.
  • Burung
  • Kumbang Kosi atau Kumbang Kepik.

Kumbang pemakan daun kelapa sawit merupakan salah satu hama yang berpotensi menurunkan produktivitas perkebunan jika tidak ditangani dengan tepat. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan rutin dan penerapan pengendalian hama terpadu agar populasi kumbang tetap terkendali tanpa merusak ekosistem.

share it
WhatsApp
Facebook
LinkedIn
Telegram

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Article